Tentang Relawan - Hidup di zaman serba mudah sebagai generasi muda merupakan kesempatan emas untuk terus menjelajahi kegiatan-kegiatan positif di luar sana. Tentu, banyak sekali yang dapat generasi muda kontribusikan untuk lingkungannya. Terlebih lagi, bentuk kontribusi tersebut yang cukup menjamur akhir-akhir ini adalah kesediaan mereka untuk menjadi relawan dalam berbagai bidang, baik pendidikan, kebencanaan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, lingkungan dan yang lainnya.
Sebelum berbicara lebih jauh tentang relawan, definisi relawan tentu harus bisa dijabarkan secara rinci. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, relawan merujuk pada sukarelawan, yakni orang yang
melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan). Selain itu, menurut
Kamus Meriam-Webster, volunteer is a person who does work without getting paid to do it. Dari kedua definisi kamus nasional dan internasional tersebut, terdapat benang merah yaitu kesukarelaan yangmencakup tanpa paksaan dan bayaran. Jika dilihat dari definisi tersebut dan sisi generasi muda, apakah ada yang ingin menjadi relawan untuk suatu kegiatan yang tanpa paksaan dan bayaran? Tentu harus ada.
Anak-anak muda di sekeliling kita ini cenderung akan melakukan sesuatu jika sudah banyak orang yang melakukannya. Lantas, apa yang bisa dilakukan agar semua anak muda terkena ‘virus’ relawan?
Jawabannya satu, membuat dunia kerelawanan sebagai lifestyle. Menurut survei yang dilakukan oleh
situs statista.com, media sosial tahun 2016 yang paling banyak dipakai oleh anak muda usia 13-24
tahun adalah instagram sebanyak 66%. Sedangkan media sosial yang banyak digunakan di tahun
sebelumnya adalah facebook.
Untuk membuat dunia kerelawanan menjadi lifestyle, langkah pertama yang sebaiknya dilakukan oleh para relawan adalah dengan memosting seputar dunia kerelawanan secara besar-besaran. Maksud besar-besaran di sini adalah dilakukan secara massive. Saat semua relawan sama-sama bergerak untuk terus menyuarakan dunia kerelawanannya, maka lambat laun orang akan melihat. Penyebaran info seputar kerelawanan secara besar-besaran juga dapat membuat hal tersebut menjadi viral. Viral menurut Kamus Meriam-Webster adalah caused by virus. Anggap saja ‘virus’ di sini adalah virus dimaksud di atas. Tidak harus dengan yang nyeleneh seperti viralnya “Om telolet om” baru-baru ini di masyarakat, cukup dengan bagikan hal-hal yang dapat menarik simpati masyarakat terus menerus.Bagikan fakta bahwa di luar rumah mereka ada orang yang hidup dengan berbagai kekurangan dan kebutuhan. Anak muda sebenarnya tersentuh juga ketika melihat seperti itu.
Selanjutnya, para NGO (Non-Government Organization) dan komunitas juga bisa mengajak para publik figur untuk turut serta dalam kegiatan mereka. Konsep publik figur sendiri sekarang telah bergeser semenjak gencarnya internet. Bukan lagi semata orang yang berada di layar televisi, layar lebar maupun panggung hiburan lainnya, tetapi juga mereka yang ada di layar media sosial anda dengan jumlah like dan followers yang fantastis. Hal ini juga sejalan dengan apa yang tertulis dalam salah satu situs online.
.
Mereka sedang mengkampanyekan komunitas mereka agar kegiatan sosial ini menjadi lifestyle di
kalangan anak muda. Agar lebih viral lagi, para komunitas dan organisasi kepemudaan ini bisa
merangkul publik figur yang dikenal sangat berbeda dengan dunia kerelawanan. Hal ini bertujuan untuk membuat masyarakat sadar bahwa kepedulian terhadap sesame manusia itu perlu, tanpa peduli siapa kita, apa pekerjaan kita, apa agama kita dan berbagai macam latar belakang yang seolah membuat sekat-sekat dalam kehidupan.
Terakhir, masih berhubungan dengan poin pertama tentang menyebar info kerelawanan secara massive, diperlukan adanya perubahan steriotipe tentang dunia kerelawanan itu sendiri. Steriotipe kalangan muda yang biasanya tergabung dengan dunia kerelawanan adalah mereka yang serius, tidak keren atau cupu. Tampilkan pada kaum muda bahwa pengkotak-kotakan yang sudah disebutkan tadi itu tidak ada.
Dunia kerelawanan membutuhkan seluruh anak muda dari berbagai latar belakang. Dunia kerelawanan bukan hanya bagi mereka yang tidak keren, tapi bagi mereka yang peduli. Sementara, kepedulian itu wajib dimiliki oleh semua anak muda. Jadi, singkat kata, dunia kerelawanan itu milik semua anak muda.
Kaum muda sebagai kaum yang kelak memegang kendali dunia ini sangat berperan dalam dunia
kerelawanan. Oleh karena itu, jalan yang bisa ditempuh adalah dengan membuat dunia kerelawanan
menjadi lifestyle. Jika Soekarno berkata bahwa dengan 10 pemuda dapat menggenggam dunia,
bayangkan bagaimana jadinya ketika seluruh pemuda mengabdikan diri di dunia kerelawanan. Ayo
sebarkan virus kerelawanan!
Penulis: Wisny Ima Prasetyo

0 Response to "Membuat Dunia Kerelawanan sebagai Lifestyle melalui Media Sosial"
Posting Komentar