Suku Badot, Sebuah Pergerakan dari Tebing Hawu

Pict: blogoga.blogspot.com
Tentang Relawan - Bagaimana mungkin kita bisa membangkitkan potensi lokal dan menjadikannya kekuatannya global jika kita tidak benar-benar mengenali daerah kita sendiri, tidak benar-benar memahami karakter masyarakat serta mengerti bagaimana kondisi sosial dan budaya yang ada? Passion yang saya miliki sebagai modal untuk membangkitkan potensi lokal adalah passion dalam dunia literasi dan passion dalam berkomunitas dengan pengembangan kreatifitas pemudanya. Kemajuan teknologi digital dan media sosial tidak adalah sebuah peluang untuk memperkenalkan potensi lokal.  Salah satu model dari pengembangan wadah dan komunitas kreatif berbasis edukasi dan konservasi adalah Komunitas Suku Badot. Sebuah komunitas lokal yang menjadi pelindung dan pemberdaya bagi kawasan Tebing Hawu, Citatah, Padalarang.  Suku Badot berkontribusi sebagai komunitas lokal berbasis pemberdayaan yang mengangkat potensi wisata alam Tebing Hawunya, ia memposting dan mengupload berbagai kegiatan kreatifnya melalui Blog dan Instagram. Latar belakang lahirnya Suku Badot sendiri adalah karna keresahannya pada eksploitasi karts citatah oleh korporasi dan industri.

Suku Badot mampu lahir karena ia mengenal siapa dirinya, dimana ia tinggal, apa yang terjadi disekitarnya, apa yang harus yang ia lakukan, dan bagaimana ia harus memulainya. Untuk dapat mengenal daerah dan segala potensi yang ada ditanahnya, seperti halnya Suku Badot, kita harus mampu membangun wadah kritis yang mensinergiskan dan memberdayakan pemuda serta masyarakat lokal sekitar. Wadah kritis tersebut dapat berupa sanggar atau komunitas lokal independent yang mampu mengakomodir potensi masyarakat dan pemudanya pada kegiatan-kegiatan yang edukatif dan produktif  berbasis pemberdayaan masyarakat.

Lahirnya sebuah wadah kritis atau komunitas lokal tersebut biasanya didorong oleh keresahan karena permasalahan lokal yang terjadi dalam sebuah masyarakat. Namun, untuk dapat mendorong rasa kritis dan sadar tersebut tentu butuh rasa cinta, rasa kepemilikan, dan rasa peduli yang tinggi untuk dapat berbuat dan bergerak. Bagaimana rasa cinta, rasa kepemilikan dan rasa peduli itu bisa dibungkus oleh sebuah ide dan gagasan serta konsep yang ideal? Maka diperlukan pemahaman lewat pembiasaan budaya literasi, yaitu pembiasaan budaya baca, tulis, dan diskusi yang akan melatih pola pikir kritis dna terbuka. Sebagai pemuda kita harus mampu memahami kondisi objektif dari tanah kita sendiri, baik itu dari segi potensi lokal serta indikasi permasalahan yang ada berkaitan dengan karakteristik masyarakat setempat. 

Maka dari itu, Suku Badot adalah salah satu gambaran nyata tentang bangkitnya sebuah wadah kritis dalam komunitas lokal dengan memanfaatkan teknologi digital dan media sosial untuk menyebarkan kebaikan dan memperkenalkan potensi  lokalnya. Eksploitasi yang terjadi disekitar karst Citatah menjadi mimpi buruk bagi keberlangsungan hidup masyarakat dan segala kekayaan alamnya. Mirisnya, eksploitasi karst tersebut pada akhirnya hanya menguntngkan para investor dan mempertebal saku korporasi, sedangkan masyarakat sekitar hanya diperdaya sebagai buruh atau kuli semata, kasarnya adalah masyarakat setempat menjadi kuli diatas tanah sendiri.

Rendahnya sikap kritis pemuda dan masyarakat setempat serta minimnya peran pemerintah dalam melindungi karst citatah menyebabkan punahnya sebagian besar potensi lokal tersebut. Krisis yang melanda kawasan tebing citatah mendorong sekelompok pemuda dari daerah Cidadap kawasan pegunungan kapur hawu atau tebing hawu yang akhirnya turun tangan dan ambil tindakan.  Oga dan kawan-kawan tidak mau tinggal diam menyaksikan aset dan kekayaan alamnya dikeruk korporasi begitu saja. 

Seperti yang telah dipaparkan diawal, bahwa untuk dapat bergerak maka butuh dorongan rasa resah dan rasa paham atas apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya sedang mengancam, maka Para pemuda Cidadap pun telah menjawab keresahan mereka sendiri, mereka memahami apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang harus dilakukan, Suku Badot pun lahir sebagai bentuk kepedulian dan kecintaan pada tanah kelahiran yang ingin menjaga dan melindungi Tebing Hawu sebagai asset penting sekaligus potensi lokal yang harus diberdayakan dan bukan digadaikan pada korporasi. 

Kegiatan Suku Badot awalnya adalah memproduktifkan kegiatan edukasi bagi anak-anak dan pemuda sekitar tebing hawu untuk aktif berdiskusi, bermain disekitar tebing, melakukan konservasi dan membuat karya-karya daur ulang, Suku Badot membuka ruang seluas-lausnya untuk mengakomodir hobi dan kreasi anak serta pemuda setempat sesuai dengan bakat dan minatnya, modalnya pun berasal dari swadaya masyarakat. Adanya kegiatan produktif disekitar Tebing Hawu ini merupakan sebuah strategi perlindungan dan penjagaan terhadap kawasan Tebing Hawu, Tebing Hawu disulap menjadi tempat bermain dan belajar  masyarakat, dimanfaatkan sebagai rumah yang nyata bagi tumbuhnya berbagai kreatifitas, keberadaan tebing hawu pun menjadi sangat potensial dijadikan medan olahraga panjat tebing yang bisa melahirkan banyak atlet-atlet panjat tebing lokal dari tebing hawu sendiri.
Perlahan tapi pasti, kegiatan suku badot di Tebing Hawu mulai diketahui banyak orang, media sosial menjadi senjata utama dalam tersebarnya semangar konservasi melalui kegiatan edukasi dan pemberdayaan karya para pemuda dan pemudi. 

Suku Badot berhasil mensinergiskan kekuatan teknologi digital melalui media sosial untuk dapat membangkitkan potensi lokal dari Tebing Hawu.  Semakin banyak komunitas pemuda lain yang datang untuk berbagi ilmu dengan anak-anak Suku Badot. Kini Suku Badot pun mulai mengembangkan sayap ke ranah wisata alam tebing hawu, mereka paham bahwa tebing hawu adalah sebuah potensi lokal yang menggiurkan dan penuh daya tarik, maka suku badot pun mengembangkan dan mengemas wisata alam berbasis edukasi dan konservasi, Suku Badot berhasil memperkenalkan Tebing Hawu melalui gerakan kritis dan kreatifnya tanpa harus mengeksploitasi dan mengorbankan masyarakat. Profit dari wisata alam tersebut pun tidak semerta-merta masuk ke kantong ke pribadi melainkan menjadi kas bagi pemberdayaan dan kegiatan yang menunjang sarana dan prasarana anak-anak, pemuda, bahkan masyarakat cidadap secara keseluruhan.

Apa yang dilakukan Oga bersama Suku Badot membuktikan bahwa untuk dapat membangkitkan potensi lokal, maka kita harus mencintai dan memahami betul kondisi tanah dan masyarakat sekitar, kita pun harus mampu pertanyaan dasar seperti, Apa yang terjadi di kampung kita? Apa yang harus kita lakukan untuk mengubahnya? serta, Bagaimana kita bisa melakukan semua itu? Oga dan Suku badot telah menjawabnya dengan semangat untuk tetap menjaga asset masyarakatnya, bahwa asset masyarakat haruslah dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi masyarakat, bukan dieksploitasi secara liar oleh korporasi.

Motivasi Suku Badot untuk dapat membangkitkan potensi lokal pun bukan semerta-merta karena kepentingan ekonomi atau komersil semata, tapi pada orientasi untuk menjaga dan melindungi tebing hawu dari eksploitasi, agar Tebing Hawu menjadi aset kebanggan masyarakat yang bisa dimanfaatkan dan dijaga oleh, dari, dan untuk rakyat. Berdasar kisah Suku Badot tersebut, maka dapat ditarik pelajaran berharga bahwa untuk membangkitkan potensi lokal mesti ditempuh dengan kesadaran dan kekritisan untuk membangun wadah atau komunitas kreatif yang edukatif dan produktif dengan tetap memperhatikan pemberdayaan masyarakat dan penjagaan pada kondisi alam dan sosial budaya sekitar. Ketika berbagai kegiatan pemuda yang positif dapat diakomodir dalam satu wadah yang sinergis, maka bukan tidak mungkin akan lahir Suku Badot lainnya yang menjelma menjadi wadah bagi kreatifitas masyarakat dan pemuda lokal. Oga dan pemuda badot lainnya memilih untuk tinggal dan bertahan di Tebing Hawu, mencari solusi dan melindungi aset serta warisan bagi anak cucunya kelak, mereka tidak memlikih untuk pergi ke kota dan bekerja pada perusahaan besar, mereka paham dan percaya bahwa potensi lokal yang ada ditanahnya tidak boleh dikuasai oleh korporasi, tapi harus dijaga dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama sebagai berkah dan rahmat dari Yang Maha Kuasa.

Sebagai pemuda, kita harus mampu menangkap semangat bergerak Oga dan kawan-kawan Suku Badot, jika Suku Badot mampu membangun potensi lokal yang di Tebing Hawu melalui kegiatan kreatif yang memberdayakan masyarakat dan pemudanya. Keresahan dan kepedulian Oga serta Suku Badot untuk dapat menyelamatkan Tebing Hawu diawai dengan budaya literasi kuat, selain gemar membaca dan menulis, Oga juga gemar berdiskusi termasuk berdiskusi menyoal keadaan kampung dan Tebing Hawu. Berkaca dari semangat Oga, maka saya sebagai pemuda pun ingin mencoba membangun wadah kreatif yang mampu mengakomodir kreatifitas masyarakat lewat gerakan peduli literasi, karena jika literasi sudah berhasil dibudayakan, maka kesadaran dan kekritisan pun akan terbangun, kita akan mampu membaca dan memahami situasi, kita akan mampu membaca arah pergerakan yang konkret.  

Membangkitkan potensi Lokal untuk menjadikannya sebagai kekuatan global memang membutuhkan proses dan wadah, semua itu bisa terjadi jika ada kerjasama sinergis yang dibangun antar masyarakat lokal dan pemudanya, melalui kegiatan kreatif yang bernafaskan semangat pelestarian budaya dan lingkungan. 

Namun yang perlu diingat adalah gerakan untuk memajukan potensi lokal tersebut tidak semerta-merta dibangun untuk ambisi komersialiasi semata, melainkan harus dibangun oleh semangat pelestarian dan pemberdayaan yang humanis. Jika Oga bersama kawan-kawannya mampu membangun Suku Badot dan memberdayakan Tebing Hawu, maka semangat Oga dengan Suku Badotnya bisa dimulai dengan langkah sederhana, yaitu pembangunan taman baca dan sanggar kreatif masyarakat. Karena jika kegiatan kreatif dan positif sudah terbangun dimasyarakat.

Suku Badot juga membuktikan bahwa teknologi Digital mampu dimanfaatkan untuk membangkitkan potensi Lokal, karena Suku Badot dan segala kegiatannya dikenal melalui media sosial, karena rajinnya Oga menulis kegiatan dan memposting segala kegiatan Suku Badot di Tebing Hawu dalam Blog atau Instagram, maka dunia pun mengenal Suku Badot dan terinsipirasi dari kiprah Suku Badot dalam memberdayakan serta melestarikan Tebing Hawu.

Penulis: Dinda Ahlul

0 Response to "Suku Badot, Sebuah Pergerakan dari Tebing Hawu"

Posting Komentar